28 Desember 2008

Hakau Udang


Bahan isi
300gr Udang Kupas
1 sdm tepung sagu
½ sdt Bubuk kaldu ayam
1 sdt Garam
½ sdt Gula pasir
¼ sdt Lada
1 sdm Minyak wijen

Bahan kulit:
150 gr tepung Tang Mien
50 gr tepung sagu
2 sdm minyak sayur
250ml air mendidih

Cara membuat:

Isi
Masukkan udang ke dalam wadah. Lalu, masukkan tepung sagu, gula pasir, bubuk kaldu ayam, garam, dan lada halus. Aduk rata. Kemudian, masukkan minyak wijen untuk menghilangkan aroma amis udang. Aduk rata.

Kulit
- Masukkan tepung Tang Mien dan tepung sagu. Aduk rata. Masukkan air mendidih yang sudah dicampur minyak goreng ke dalam adonan tepung. Aduk rata.

- Diamkan selama 15 menit. Tutup adonan dengan serbet agar permukaan adonan tidak kering.
Setelah dingin, uleni hingga kalis.

- Ambil satu bagian kecil. Lalu gilas tipis dengan rolling pin. Dan, cetak berbentuk lingkaran.

- Ambil 1 sendok makan bahan isi. Letakkan di tengah adonan kulit.
Lipat adonan membentuk wiron di salah satu sisi kulit, sementara sisi lainnya biarkan tetap rata.

- Setelah menjadi bentuk hakau seperti pastel berdiri, cubit bagian atas secara pelan, namun agak ditekan agar hakau rapat erat sehingga tak terbuka saat dikukus.

- Olesi permukaan wadah kukusan dengan minyak goreng. Setelah itu kukus hakau selama 10 menit.

Hidangkan Untuk 18 buah

Site: disini

Kegunaan Blog yang lainnya...


Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat sedang mempertimbangkan untuk berburu teroris dengan menelusuri blog dan forum online. Diyakini dua 'alat rakyat' itu kerap digunakan dalam rencana penyerangan kelompok teroris.

Upaya itu akan dilakukan seiring hasil penelitian yang menunjukkan makin maraknya penggunaan internet oleh kelompok teroris. Blog dan forum online memiliki peran penting dalam membiarkan komunikasi di antara para kelompok teroris yang mengancam Amerika Serikat.

Nantinya hal itu akan dilakukan dengan memanfaatkan sistem pencarian di internet ala Google. Saat ini Departemen Keamanan Dalam Negeri AS sedang meninjau perusahaan-perusahaan yang bisa menyediakan jasa itu.

Rencana ini menuai pujian dan kritikan. Di satu sisi Steven Aftergood dari Federation of American Scientist memuji keinginan pemerintah AS melakukan 'perburuan' teroris dengan cara-cara yang inovatif.

Namun di sisi lain, analis terorisme Matt Devost nampak meragukan upaya ini. Karena yang ditulis para blogger bisa saja hannya 'main-main' atau 'goyonan'.

Departemen lain di AS dikabarkan sudah menerapkan metode pencarian internet dalam mengumpulkan data intelijen. Chip Ellis dari Memorial Institute for the Prevention of Terrorism mengatakan Departemen Pertahanan AS adalah salah satu yang sudah melakukannya.

19 Desember 2008

IT Worker Potential To Be Cyber Criminal


Tahun 2009 para petinggi-petinggi perusahaan wajib berhati-hati. Pasalnya petinggi perusahan yang telah 'merumahkan' para pekerja IT-nya akan mempunyai kemungkinan untuk 'dikerjain' oleh para mantan anak buah tersebut.

Menurut ramalan dari PricewaterhouseCoopers (PwC) dan perusahaan keamanan komputer Finjan, masa resesi tahun depan akan menyebabkan angka cyber crime melonjak secara signifikan.

Dikhawatirkan, para 'tukang informasi' yang frustrasi, akan melakukan kegiatan-kegiatan ilegal seperti menjual informasi keuangan atau informasi intelektual -mantan- perusahaan mereka kepada kompetitor, atau mencuri data kartu kredit menggunakan serangan phishing (mengirim e-mail palsu untu mendapatkan data pribadi seseorang).

Penelitian dari PwC didasari oleh adanya peningkatan investigasi internal di sebuah perusahaan, seiring meningkatnya kasus yang diduga sebagai aktivitas penipuan internal perusahaan.

Sementara firma keamanan komputer Finjan memperingatkan trend 2008, bahwa para pekerja TI yang sudah tak lagi bekerja, baik di Eropa Timur dan Asia, biasanya menggunakan toolkit crimeware (software kriminal), untuk melakukan aktivitas-aktivitas phishing ataupun menanam program jahat di komputer untuk mencuri data penting perusahaan.

Sebenarnya kasus seperti ini telah terjadi juga pada masa resesi ekonomi tahun '90-an. Namun kurang ditanggapi.

Maka dari itu, perusahaan seyogianya menerapkan pengecekan ketat di wilayah-wilayah yang paling rawan, seperti data biaya akses, atau data pelanggan yang sensitif.

Pesan Bang Napi: 'WASPADALAH... WASPADALAH'