Tampilkan postingan dengan label kumpul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kumpul. Tampilkan semua postingan

26 Oktober 2010

Jakarta dan Banjir

      Ibukota Jakarta merupakan pusat pemerintahan, industri, maupun pusat ekonomi Indonesia. Di kota ini banyak orang menggantungkan cita-cita, angan-angan, dan doanya agar sukses bila kelak kembali ke kampung mereka masing-masing. Tak dapat dipungkiri kota Jakarta mempunyai daya magis yang kuat untuk menarik minat para pendatang untuk sekedar berkunjung maupun untuk mencoba peruntungan di ibukota. Saat ini mungkin jumlah penduduk kota Jakarta sudah melebihi kapasitas yang seharusnya.

Banjir di kota besar


      Dampaknya, kota Jakarta menjadi rawan macet dimana-mana. Kemarin, tepatnya tanggal 25 Oktober 2010 kota Jakarta ditimpa dua musibah sekaligus, yaitu : macet total dan banjir. Senin kemarin mungkin menjadi hari yang naas bagi orang-orang yang tinggal di Jakarta. Selain macet yang sudah menjadi "kebiasaan" di Jakarta, mereka juga dihadapkan dengan bajir yang di akibatkan hujan turun sejak pagi hingga malam di Jakarta.

9 September 2010

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H

Kepada semua pembaca blog celoteh fadli, saya mohon maaf lahir dan batin. Jika saya pernah menulis kata-kata yang menyakiti atau menyinggung para pembaca saya mohon maaf sebesar-besarnya. 



Akhir kata, SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1431, TAQOBALALLAHU MINNA WA MINKUM, SHIYAMANA WA SHIYAMAKUM, JA'ALANALLAAHU MINAL 'AIDIN WAL FAIZIN, AMIN...

NB: Kepada para pembaca yang mudik, semoga selamat sampai ditujuan dan kembali lagi ke kota asal.

23 April 2010

Departemen Ilmu Komputer [akankah] menjadi Fakultas Ilmu Komputer

Universitas Sumatera Utara atau yang sering disebut USU, sudah cukup lama memiliki program studi Ilmu Komputer. Tepatnya semenjak tahun 2001. Sampai dengan tahun 2008 program studi Ilmu Komputer yang tadinya berada dibawah Departemen Matematika, kemudian menjadi Departemen Ilmu Komputer.


Departemen ini membawahi beberapa program studi, yaitu : S1 Sistem Informasi, Ekstensi Informasi, dan S2 Ilmu Komputer. Beberapa hari yang lalu saya iseng-iseng mengambil gambar dari proyek baru Departemen Ilmu Komputer dengan Departemen Tehnik Perangkat Lunak / Tehnik Informatika. Berikut gambar yang saya ambil.

Gedung ini [katanya] dibangun untuk proses belajar mengajar Departemen Ilmu Komputer dan program studi Tehnik Informatika. Namun tersiar kabar bahwa keduanya akan bergabung dan membentuk Fakultas baru yaitu Fakultas Teknologi Informasi / Ilmu Komputer. Kabar ini masih simpang siur.

Namun saya sebagai salah satu mahasiswa Departemen Ilmu Komputer berharap, kabar tersebut menjadi kenyataan. Sebab dengan begitu Ilmu Komputer USU bisa lebih mengaktualisasikan diri, serta dapat mengurus masalah RT-nya sendiri. Tanpa dicampuri oleh Jurusan lain.

Semoga dalam waktu dekat kita akan dapatka jawabnya. Amin

28 September 2009

10 Resep Sukses Bangsa Jepang



Menurut penulis bangsa Jepang adalah salah satu bangsa yang patut dicontoh kesehariannya oleh bangsa-bangsa lain. Seperti kita ketahui Jepang pernah di 'Bumi Hanguskan' oleh sekutu. Dua kota penting mereka dihancur leburkan. Namun mereka dapat bangkit kembali membangun 'semangat untuk hidup' dan sekarang dapat dilihat eksistensi mereka didunia.

Maka dari itu penulis akan menjabarkan 10 Rahasia Bangsa Jepang yang membuat mereka seperti sekarang. 10 Resep Sukses tersebut, yaitu:

  1. KERJA KERAS, Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan "agak memalukan" di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk "yang tidak dibutuhkan" oleh perusahaan. Di kampus, professor juga biasa pulang malam (tepatnya dini hari), membuat mahasiswa agak enggan pulang lebih awal. Fenomena Karoshi (mati karena kerja keras) mungkin hanya ada di Jepang. Sebagian besar literatur menyebutkan bahwa dengan kerja keras inilah sebenarnya kebangkitan dan kemakmuran Jepang bisa tercapai.
  2. MALU, Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena "mengundurkan diri" bagi para pejabat (menteri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan yang membutuhkan, pembelian tiket kereta, masuk ke stadion untuk nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.
  3. HIDUP HEMAT, Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00. Contoh lain adalah para ibu rumah tangga yang rela naik sepeda menuju toko sayur agak jauh dari rumah, hanya karena lebih murah 20 atau 30 yen. Banyak keluarga Jepang yang tidak memiliki mobil, bukan karena tidak mampu, tapi karena lebih hemat menggunakan bus dan kereta untuk bepergian. Professor Jepang juga terbiasa naik sepeda tua ke kampus, bareng dengan mahasiswa-mahasiswanya.
  4. LOYALITAS, Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan. Kota Hofu mungkin sebuah contoh nyata. Hofu dulunya adalah kota industri yang sangat tertinggal dengan penduduk yang terlalu padat. Loyalitas penduduk untuk tetap bertahan (tidak pergi ke luar kota) dan punya komitmen bersama untuk bekerja keras siang dan malam akhirnya mengubah Hofu menjadi kota makmur dan modern. Bahkan saat ini kota industri terbaik dengan produksi kendaraan mencapai 160.000 per tahun.
  5. INOVASI, Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan mem-bundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah. Mobil yang dihasilkan juga relatif lebih murah, ringan, mudah dikendarai, mudah dirawat dan lebih hemat bahan bakar. Perusahaan Matsushita Electric yang dulu terkenal dengan sebutan "maneshita" (peniru) punya legenda sendiri dengan mesin pembuat rotinya. Inovasi dan ide dari seorang engineer-nya bernama Ikuko Tanaka yang berinisiatif untuk meniru teknik pembuatan roti dari cheef di Osaka International Hotel, menghasilkan karya mesin pembuat roti (home bakery) bermerk Matsushita yang terkenal itu.
  6. PANTANG MENYERAH, Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia. Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita. Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo. Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen) . Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tape-nya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan).
  7. BUDAYA MEMBACA, Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institut penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.
  8. KERJASAMA KELOMPOK, Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa "1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok" . Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan "rin-gi" adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam "rin-gi".
  9. MANDIRI, Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Anak-anak harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di leher mereka. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua.Kalaupun kehabisan uang, mereka "meminjam" uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.
  10. JAGA TRADISI, Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini. Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan. Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata "tidak" untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena "hai" belum tentu "ya" bagi orang Jepang ;) Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.



3 September 2009

Pesta Blogger 2009, Medan I'm coming...


Pesta Blogger adalah event tahunannya para Blogger nasional. Pesta Blogger tahun ini adalah kali ketiganya event akbar ini diselenggarakan dengan tema "One Spirit, One Nation". Nah untuk menambah semangat blogging nasional, diadakanlah roadshow di 10 kota besar di Indonesia. Salah satunya di Medan yang di adain tanggal 03 September 2009 alias hari ini.

Di setiap kota ada tema atawa judul buat acara roadshow ini. Di Medan ngambil judul, "Tepak Menyirih Dongan Sahuta". Pasti binungkan nih para pembaca?? sebenernya sih aku juga bingung, abis tidak berkompetensi di bahasa yang satu ini. Tapi aku dapet bocoran arti dari judul roadshow di Medan ini, yaitu tempat bersosialisasi dengan teman satu kampung halaman yang menggabungkan dua bahasa, yaitu melayu dan batak.

Panitia memilih judul ini untuk menggambarkan betapa saling tenggang rasa dan saling menghargainya antar suku di Sumatera Utara ini atawa khususnya Medan.

at least... Pesta Blogger 2009 Chapter Medan, i'M coming.

28 Agustus 2009

Ramadhan yang membawa berkah


Tak terasa bulan Ramadhan kembali kita jumpai. Sebagai umat muslim yang taat selayaknyalah kita bersyukur atas rezeki umur yang diberikan Allah SWT hingga kita masih dapat berjumpa dengan bulan yang penuh rahmat dan barokah ini.

Saya sebagai penulis mengucapkan, "Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1430 H, semoga kelak kita mendapatkan Kemenangan di hari nan Fitri".

28 Juni 2009

Salah Kaprah


... Mengisi blog bukan seperti ikut lomba lari jarak pendek; melejit begitu bendera start dikibaskan untuk berhenti segera dalam tempo singkat. Mengelola blog itu ibarat lari marathon, mungkin lebih jauh lagi. Begitu Mulai, kita tak perlu bergegas. Atur kecepatan dan napas, juga irama. Perjalanan begitu panjang. Kita tidak perlu buru-buru berhenti. --Wicaksono alias Ndoro Kakung

Salah dong tujuan gw nge-blog selama ini




Tulisan dari Ndoro Kakung ini untuk sepersekian detik buat aku tersentak, ternyata ngeblog bukan hanya kisah tentang pagerank, adsense, dan terkenal.


Ngeblog adalah sebuah media tempat bagi kita-kita yang ingin berbagi dan mengeluarkan ide-ide yang bergelayutan di alam khayal.


Jadi buat temen-temen yg baca posting ini coba dipikirkan kembali,
"apa seh tujuan loe ngeblog??"


29 November 2008

KopDar perdana Blogger SUMUT dengan telkomsel

Hari sabtu,28 nopember 2008. Hari yang bersejarah buat saya. Coz hari ini saya bisa ketemu sama temen" dari blogger SUMUT. Jujur saya termasuk "newbie" didalam dunia per-blog-kan. Pernah seh punya blog, tapi gak ke urus. Tapi sekarang saya bertekad untuk memulai hobi saya yang satu ini dengan konsisten.